Bagikan

“A scene has to have a rhythm of its own, a structure of its own.”

Michelangelo Antonioni

 

Memang dalam lingkup bidang kerjanya sebagai sutradara legendaris, Michelangelo Antonioni bukan membicarakan scene dalam artian komunitas akan tetapi scene dalam part pembuatan film.

Namun, begitu pula dalam semua karya sastra bahwa apa yang terucap, apa yang tertulis, semuanya mempunyai multi tafsir, yang kadang saling berkaitan erat.

Saya setuju, sangat setuju pada ungkapan bahwa semua scene mempunyai rythm dan strukturnya tersendiri. Semua scene mempunyai ciri khas, atau dalam kaitannya dengan daerah asal di mana scene tersebut bernaung, setiap scene mempunyai “adat”tersendiri.

Sejauh yang saya tahu, beberapa komunitas bawah tanah yang biasa berkumpul di Pintu Barat Delta Plaza (RIP) adalah komunitas Punk Gang Setan (sekarang berdiri waralaba fastfood, di area tersebut, dan berganti komunitas yang berkumpul di situ), Komunitas Hardcore Bambu Runcing(RIP), Komunitas Bioskop Mitra (RIP), sampai komunitas grunge cafe Dewata/bank ANK (RIP), dan lain-lain.

Saya mencoba mengikuti ritme mereka. Saya menyaksikan dan terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam setiap pergerakannya, pergolakannya.

Lebih dari 20 tahun dalam scene, bukan waktu yang singkat untuk mencoba menuliskan bagaimana scene ini tumbuh, berkembang, bergolak, mati suri, bangkit kembali, dengan segala kisah dan dramanya.

Scene Surabaya terus bergerak

Namun itu juga bukan waktu yang panjang, untuk menentukan arah dan tujuan scene Surabaya hingga saat ini. Scene ini masih bergerak, entah massive, entah tak beraturan, entah menuju ke suatu arah.

Scene ini mulai tumbuh dengan berkaca dan meniru langsung “kakak jauh”nya, Jakarta dan Bandung.

Ibarat adik bungsu yang excited, dia tertarik untuk meniru kakak-kakaknya, menjadikannya role model. Mulai dari membuat promosi, propaganda via zine, mengeluarkan sound, permainan di atas panggung, hingga dari segi tampilan. Yakni, formasi foto band yang layak, cara berpakaian, dan membuat gig yang hampir serupa, poster dan pamflet yang hampir serupa.

Di era sekarang ini, scene Surabaya juga mulai membuat trailer youtube yang hampir serupa dengan yang dilakukan oleh Jakarta dan Bandung.

Era rock Surabaya 1980-an tak ada bekasnya

Lantas kemana perginya propaganda era 80an yang menyatakan bahwa Surabaya adalah barometer musik rock Indonesia. Surabaya sebagai titik tumpu musik rock? Saya rasa itu tak pernah terjadi!

Yang ada, bagi saya hanyalah Log Zhelebour sebagai titik tumpu musik rock 1980-an. Bahwa Log tinggal di Surabaya, itu akhirnya yang menjadikan cerita bagaimana band-band cadas Indonesia mulai direkrut dan diproduksi massal. Melalui saringan bernama Rock Festival bla bla, dan mencuat di ranah mainstream.

Itu semata industri yang menjual musik keras dan dibopong oleh raksasa bernama perusahaan rokok.

Apakah itu salah? Sebagai industri, jelas itu berhasil, menjadikan Surabaya sebagai pusat perhatian industri musik rock Indonesia. Log berhasil membuat musisi-musisi dan band-band rock tanah air menoleh ke Surabaya. Sampai di titik ini, ungkapan Surabaya sebagai barometer musik rock saya rasa sah.

Namun apabila kemudian dikaitkan dengan pergerakan komunitas yang notabene mengusung idealisme di jalur independent, jelas tidak ada kaitannya.

Apalagi, scene Surabaya lahir dan tumbuh kembang dalam informasi yang serba terbatas. Internet belum populer. Zine fotokopian yang mengalir deras dari kota-kota lain ditampung bagaikan sabda Hermes, yang diutus tuhan untuk memberikan ilmu pengetahuan dan tata cara perniagaan. Mulai dari bagaimana menjual merchandise, “menjual” band, semua diserap, semua bagus, semua dianggap sebagai bagian gerakan pemberontakan yang sebenarnya semu, tak pernah ada.

Setelah 20 tahun lebih masa-masa itu berlalu, setelah arus informasi mengalir deras, masihkah kita meneriakkan Surabaya barometer musik rock?

Padahal, kita kebingungan, gerakan seperti apa, movement seperti apa yang sedang kita lakukan? Atau lebih tepatnya kita menuju ke mana? Kita ini sedang meneriakkan apa?

“Setiap komunitas mempunyai irama tersendiri, setiap komunitas mempunyai struktur tersendiri.”

Bukan hanya bagaimana membuat band kita tampil bagus, bukan hanya tentang membuat lagu-lagu yang membakar, bukan hanya bagaimana mempropaganda generasi.

Tapi tentang bagaimana Surabaya bisa menemukan iramanya tersendiri, yang ciri khas, pribadi komunitas yang kuat, yang bisa menjadi pembelajaran sikap, dan juga acuan bagi kota-kota lainnya. Mari bersahabat!


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here