Bagikan

MakNews – Kaca patri merupakan sebuah seni sekaligus industri yang berusia tua. Berbeda dengan lukisan, bahan kaca warna-warni dengan rangka logam jika disusun dengan ahli akan menyajikan obyek yang menarik. Setiap pecahan kaca dengan bentuk dan warnanya yang unik menyumbang sesuatu untuk keseluruhan. Dengan keterbatasan material penyusunnya ini, karya kaca patri tetap memiliki pesona sendiri dan tidak memaksa untuk menjadi sebuah lukisan.

STDSurabaya Tempo Dulu (STD) adalah forum kolaborasi masyarakat untuk membentuk kaca patri-kaca patri unik Surabaya masa silam. Pecahan kaca adalah pengalaman individu yang unik dan seringkali pendek namun berkesan. Jika nostalgia pendek-pendek ini mendapat wadah dan disusun, maka sekian juta penduduk Surabaya berbagai generasi bisa memulai sebuah proyek berkelanjutan: merekam sejarah Surabaya dengan sudut pandang awam, tidak memaksakan diri untuk merekam sejarah dengan cara profesional. Dengan demikian sejarah yang terlalu penting untuk diserahkan kepada para sejarawan semata, menjadi lebih lengkap dengan campur tangan banyak individu yang peduli dan selama ini tidak tahu kemana bisa membagikan pengalaman pribadinya.

Siapa saja yang memiliki akses Facebook dapat menjadi bagian dari STD. Kemudahan ini merupakan keajaiban sosial media yang relatif baru dan menjadi sarana murah meriah untuk menggerakkan masyarakat luas untuk ikut serta dalam membangkitkan minat, berbagi dan menularkan minat sejarah, sastra, budaya dan bahasa lokal Surabaya. Hal-hal sepele seperti permainan masa kecil bernama ‘dul-dulan’ misalnya ternyata memiliki banyak detail yang terlupakan. Dengan kolaborasi para anggota STD maka detail-detail yang terlupakan itu bisa disusun ulang menjadi sebuah ‘kaca patri’ yang indah dan sangat berharga untuk diabadikan.

STD dibentuk sejak tahun 2010 oleh Bambang Irawan, arek Suroboyo yang merantau ke Jakarta dan saat ini tinggal di Perth Australia. Percaya atau tidak, kangen kota asal justru tidak dialami mereka yang tinggal di Surabaya, maka tidak heran sebagian para admin STD saat ini justru tidak berdomisili di Surabaya. Dengan melihat dan tinggal di kota lain, memori kota kelahiran di mana kita tumbuh besar akan terus membayangi setiap pemandangan di tempat tinggal yang baru. Hal ini dialami para admin. STD sendiri dibentuk saat pendiri tinggal di Australia dan mendapat akses untuk membaca buku-buku tentang Indonesia dan Surabaya di perpustakaan di Australia. Buku-buku tersebut justru sulit diakses masyarakat umum di Surabaya! Bagaimana agar pengalaman menyenangkan dalam menemukan informasi nostalgik di buku-buku ini bisa dibagikan seluas-luasnya? Inilah pertanyaan yang mengusik pendiri dan para admin STD.

Saat artikel ini ditulis STD telah mendapat 236.021 likers secara organik. Setiap minggu mendapat 1000 hingga 4000 liker baru. Sebuah pencapaian bersama antara para pemirsa STD dan tim admin STD yang kadang kelabakan membagi waktu dan komitmen, disela-sela kesibukan masing-masing. Banyak ide yang masih belum terealisasi, banyak ide yang sudah dicoba namun perlu dicoba lagi dan masih banyak potensi admin baru maupun pemirsa baru di luar sana yang menunggu ‘jodoh’ bisa berkolaborasi bersama membuat karya ‘kaca patri’ seproduktif mungkin.

Masih banyak tantangan yang dari sejak awal masih terus diperjuangkan para admin. Minat baca buku merupakan hal yang paling menantang. Membaca buku mendasari semua minat lain untuk bisa bertumbuh, tidak ‘panas-panas tahi ayam’. Minat pada sejarah, sastra, budaya, bahasa dan minat lainnya hanya bisa bertahan jika asupan tiga hari sekali terjamin. Tanpa asupan tiga kali sehari, minat ini akan perlahan luntur dan terdominasi asupan-asupan lain yang lebih deras menyita keenam indra kita. Asupan ini perlu terus diolah dari bahan-bahan yang dapat dipertanggung-jawabkan yaitu buku-buku yang bermutu. Ibarat seorang ibu setiap hari tidak pernah absen menyiapkan makanan untuk keluarganya dengan harapan suatu hari, para admin STD juga menyiapkan asupan setiap hari dengan harapan permisa kelak bisa menyiapkan ‘asupan’ mereka sendiri secara mandiri.

Asupan yang bermanfaat untuk menjawab tantangan ini tidak selalu terasa ‘enak’, seperti makanan menyehatkan seringkali tidak lezat. Admin ditantang untuk menyajikan menu yang ‘enak’ sekaligus ‘bergizi’, bagaimana idealnya? Admin STD sejauh ini belum berani merasa yakin telah menemukan jawabannya. Jawaban teoritis dari berbagai buku juga tidak selalu cocok dengan sikon pemirsa STD. Yang diformulasikan admin kadang tidak mendapat animo yang diduga. Prinsip yang dipegang para admin adalah “Menang cacak”, dicoba dan dicoba lagi. Berikut adalah contoh materi tayangan STD yang bisa dinilai membosankan bagi sebagian orang, namun menarik bagi sebagian kecil orang yang lain.

Kartogram: Bankstraat

Foto merupakan koleksi KITLV image code 151299 yang bisa diperbesar sehingga detail-detailnya tampak jelas. Lokasi di jalan Werfstraat atau kadang disebut Bankstraat (karena ada gedung De Javasche Bank di situ), foto diambil antara tahun 1875-1880)

Foto ini sempat dikira jalan Societeitstraat (jalan Veteran atau nama lokalnya jalan Kromodjadjan) oleh Hein Buitenweg dalam bukunya “Krokodillenstad” (1984). Buitenweg menduga gedung berpilar di sebelah kanan kelak menjadi Gedung Societeit Concordia (sekarang Pertamina).

Kadang Toean Meneer pun menulis buku bisa salah. Mungkin Hein Buitenweg tidak memiliki foto yang bisa diperbesar sehingga dugaannya keliru. Bahkan H.W Dick dalam bukunya “Surabaya City of Work” (2002) juga mengira ini foto jalan Rajawali (d/h Heereenstraat). Buku Handinoto “Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya (1870-1940)” edisi pertama 1996 juga memberikan keterangan yang membingungkan tentang lokasi foto ini dengan Kantor Residen yang di depan Jembatan Merah.

Jadi apakah ini benar Werfstraat (Brankstraat atau sekarang jalan Kasuari)? Bagaimana membuktikannya? Peta Surabaya tahun 1866 dapat memastikannya. Peta ini merekam keberadaan kantor polisi, bank dan sekolah di jalan Kasuari. Kamera menghadap ke utara. Kantor polisi adalah gedung sebelah kanan, dan gedung De Javasche Bank di sebelah utaranya (tampak lampu gas di kanan). Di depan Kantor Polisi tampak dua bapak berblankon berdiri adalah panti asuhan anak laki laki (menurut fotograferya, Salzwedel) atau Kantor Registry (menurut buku Asia Maior).

Apakah sejarawan profesional memiliki waktu untuk meneliti foto-foto lama? Jika mereka memiliki waktu untuk memecahkan misteri foto itu dimanakah mereka bisa mempublikasikan secara ilmiah penemuan yang sepele seperti ini? Bagaimana dengan nasib sekian ribu foto Surabaya lama di internet yang bisa diakses masyarakat awam tapi sebagian masih misteri? Siapa yang turun tangan? Bagaimana caranya agar masyarakat awam juga belajar memecahkan misteri sejarah kotanya?

Admin mencoba menjawab sederet pertanyaan ini dengan tayangan-tayangan seperti di atas: Kartogram, Detektif Foto, Kelana Buku, Gali Kata, Now and Then dan banyak lagi ide-ide tayangan yang menunggu partisipasi pemirsa sekalian.

Ayo tunggu apa lagi? (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here