Bagikan

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini boleh irit bicara soal pencalonannya sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk melawan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Namun, survey yang dilakukan Laboratorium Psikologi Politik (Psikopol) Universitas Indonesia memasukkan namanya dalam tiga calon terkuat pemimpin ibu kota.

Survey yang dilakukan lembaga tersebut berbeda dengan lembaga survet biasanya. Jika umumnya jajak pendapat hanya dilakukan kepada calon pemilih acak, survey ini dilakukan dengan sasaran para opinion leader.

Tujuannya, untuk memberikan analisis terhadap para calon potensial gubernur DKI. Dengan narasumber para opinion leader, para calon kandidat bisa dikupas kapabilitasnya secara menyeluruh.

Jadi tidak mengandalkan popularitas semata.

“Kami ingin memunculkan figur terbaik yang layak menjadi pemimpin negara atau daerah agar masyarakat dapat pilihan politik yang berkualitas. Tidak ada tujuan politis apapun di sini,” kata Prof Hamdi Muluk dari Jurusan Psikologi UI saat menyampaikan hasil surveynya, Senin, 1 Agustus.

Ada 206 opinion leader yang menjadi narasumber. Mereka di antaranya berasal dari kalangan akademisi, pengamat politik, pakar perkotaan, wartawan, LSM, dan tokoh masyarakat.

Beberapa nama menolak dipublikasikan. Hanya 40 persen yang mau namanya disebut. Mereka, antara lain, Elman Saragih (Metro TV), Wicaksono “Ndorokakung” (Beritagar), dan Hermawan Kartajaya (MarkPlus).

Hasilnya, dari banyak nama yang digadang-gadang masuk dalam bakal calon gubernur DKI, hanya tiga nama yang paling potensial, baik secara kemampuan maupun elektabilitas. Mereka adalah Ahok, Ridwan Kamil, dan Risma.

Ini berarti nama-nama lain seperti Sandiaga Uno, Yusril Ihza Mahendra, Soeyoto, Adhyaksa Dault, Yusuf Mansur, dan Sjafrie Sjamsoeddin terpental. Mereka tidak masuk dalam “rekomendasi” para opinion leader.

Bahkan, hasil survey terhadap para pakar tersebut terang-terangan menyatakan ada tiga nama yang paling tidak direkomendasikan. Mereka adalah Yusril, Sandiaga, dan Sjafrie.

Bagaimana pengukurannya? Ada dua macam dimensi. Yakni, elektabilitas dan kapabilitas. Dalam kapabilitas, yang diukur adalah tingkat intelektualitas, visi, keterampilan politik, kemampuan komunikasi politik, leadership, dan governability.

Trio Ahok, Risma, dan Ridwan Kamil berada dalam urutan teratas.

Namun, dalam hal elektabilitas alias nama yang nyantol di kepala para pemilih, survey tetap menempatkan Ahok di peringkat pertama (42,29 persen), diikuti Tidak Tahu (27,59 persen), Risma (11,33 persen), dan Ridwan Kamil (6,90 persen).

Dengan masih ada masa persiapan sekitar setahun ke depan, Bu Risma masih punya waktu jika berubah pikiran. Apalagi, dukungan untuk mantan Kepala Bappeko tersebut terus mengalir.

Harian Surya mencatat, sudah ada 16 deklarasi dukungan untuk Risma hingga Senin (1/8) lalu. “Kami akan lakukan deklarasi sampai rekomendasi dari PDI Perjuangan diberikan ke Ibu Risma,” kata Ketua Umum Gerak Indonesia, Emi Sulyuwati, usai deklarasi di Kampung Poncol, Kelurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.

Jadi, gimana, Bu? 😀

 

 

 

 


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here