Bagikan

MakNews – Beberapa hari belakangan ini, ada sejumlah topik hangat di media massa tentang Surabaya. Koyok tho, omongan Bu Risma yang mengambang saat ditanya mau tidak jadi Gubernur DKI Jakarta. “Silakan tanya warga Surabaya” konon, seperti itulah jawaban Bu Risma saat dikonfirmasi tentang itu. Politik kadang memang menarik untuk disimak. Tapi, lebih sering memuakkan! Entahlah…

Nah, karena topik tersebut secara subyektif saya nilai kurang asyik, tulisan ini pun mengambil bahasan lain. Yakni, tentang Bu Risma yang pada salah satu dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan (27/6) berkunjung ke bawah jembatan flyover Gubeng. Dia menjumpai seniman mural. Lalu berpesan pada orang-orang itu: buatlah mural yang baik.

Mural, kata politisi PDI Perjuangan ini, harus bisa bercerita dan memberi pesan moral. Tidak sekadar corat-coret. Selain itu, mural juga harus bisa menjadi “pijakan” yang profesional dan komersial. Bukan buat senang-senang belaka.

Ya, nasehat itu memang cukup normatif. Dan untung, yang bicara seperti itu adalah Bu Risma. Dia pasti didengar dengan baik.

Coba kalau yang ngomong saya, di hadapan salah satu kawan bernama YZRL dan hobi corat-coret tembok, mungkin saya akan diguyu sampek wetenge keju. “Bos, bos.. Gak onok saran dan masukan sing liyo ta?” nyinyirnya sambil cekikikan.

Seni yang menyenangkan

Saya sering merasa kagum dengan para seniman. Selain menyenangkan diri sendiri melalui hobi yang mereka anut, mereka juga memberi angin sejuk untuk khalayak. Melalui karya yang memikat, mereka membuat orang bahagia.

Maka itu, sejak dulu saya ingin menjadi seniman. Paling tidak punya karya. Lantas, karya itu disukai banyak orang. Tapi, meskipun tidak ada yang suka, juga tidak apa-apa. Minimal dengan berkarya, otak menjadi lebih cair. Karena, sumbatan inspirasi meleleh dan tumpah dengan baik. Karya seni itu membahagiakan. Setidaknya bagi si kreator.

Mural juga demikian. Tapi, karena umumnya yang dipakai untuk mural itu ruang publik, sebaiknya memang mesti dibuat seindah mungkin. Sehingga, yang lihat jadi senang. Nek awur-awuran lhan terkesan vandalisme, kan yo gak apik, rek!

Tapi, saya yakin. Sedulur yang didatangi Bu Risma di bawah flyover Senin malam lalu sudah sangat paham dengan nilai-nilai estetik. Mereka pasti sudah piawai nyemprot-nyemprot dan ngecat-ngecat. Kalau saya ngasih usul buat mereka tentang mural, ya sama saja ngajari elang terbang di angkasa.

Maka itu, baiknya saya sekadar ikut mendoakan. Terlebih, kata banyak kisah, di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, do’a-do’a bakal lebih mudah dikabulkan. Semoga teman-teman penghobi mural enteng rejekinya, gampang inspirasinya, dan yang belum punya jodoh, semoga mendapat jalan hidup yang terbaik dari Tuhan yang Mahakuasa.

Salam hangat selalu. Berkah Ramadan menyertai kita semua. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here