Bagikan

MakNews – Dua bulan yang lalu, tepatnya 16 April 2016, Tedja Suminar masih meniup lilin peringatan Hari Ulang Tahunnya yang ke-80. Kala itu, seniman lukis yang lukisannya menjadi buruan kolektor tanah air merayakan hari kelahirannya bersama keluarga, teman dekat, dan komunitas Roodebrug di studio lukisnya di Jl Lapangan Dharmawangsa, Surabaya.

Jumat, 24 Juni 2016, sang maestro kebanggaan Surabaya dan Indonesia itu telah tiada. Tedja meninggal karena sakit di Rumah Sakit RKZ Surabaya. Dunia seni Indonesia patut merasa kehilangan sosok yang dikenal karena keahliannya membuat sketsa ini.

“Orang hidup itu harus semangat, kerja keras, dan tidak boleh putus asa,” ujar Tedja saat ditanya Lambertus Hurek, seorang blogger kenamaan Surabaya, semasa hidupnya kenapa dia selalu terlihat bersemangat dan produktif.

Tedja memang salah satu seniman yang tetap produktif di usianya yang senja. Di usianya yang ke-74, dia sempat menggarap sketsa-sketsa tentang kehidupan para pekerja di perusahaan rokok Wismilak. Tedja menyelesaikan 15 lukisan dalam waktu tiga bulan dan kini dipajang di koridor dan ruang pertemuan Grha Wismilak Surabaya di Jl. Dr Soetomo.

Hari-harinya disibukkan dengan melukis. Studio lukisnya menjadi tempat bagi dirinya menyelesaikan karya-karya sketsanya. Sejatinya, dia mempunyai studio lukis di Ubud, Bali. Studio itu dibangun bersama sang istri tercinta, Anastasia Moentiana, yang juga seorang pelukis. Mereka melukis sambil menikmati suasana alam pedesaan Ubud selama hampir 30 tahun.

Studio lukis itu sering menjadi jujugan para seniman asal Jatim saat berkunjung ke Pulau Dewata. Turis-turis asing sering datang bertamu. Tedja dan istri sering menggelar even seni yang dihadiri para seniman dan budayawan di Bali.

Sayang, studio yang diisi Tedja dengan berbagai aksesoris dan furnitur antik harus ditinggal pemiliknya. Pada 30 Oktober 2007, sang istri meninggal dunia pada usia 69 tahun. Sejak kepergian sang istri, Tedja merasa separo jiwanya hilang.

“Saya seperti tidak tahan tinggal di Ubud. Bayangkan, saya dan istri membangun studio itu dari tanah kosong. Mulai pasang fondasi sampai jadi kami selalu bersama-sama,” ujarnya kepada Hurek.

Tedja memutuskan untuk pindah ke Surabaya untuk lebih dekat dengan keluarganya sambil terus melukis.

Tedja dikenal sebagai maestro lukis beraliran realisme dan ekspresionisme. Karya sketsanya sering mengundang decak kagum banyak kalangan. WS Rendra, seniman puisi, suatu ketika pernah memujinya. Dalam catatannya pada 2002, dia menyebut lukisan Tedja layaknya sebuah melodi. Sementara paduan-paduan warnanya memunculkan irama yang membuatnya terpikat. Rendra menyebut Tedja tak sekedar menciptakan gambar, namun dia memindahkan emosi dan ekspresi tokoh yang dilukisnya ke dalam karyanya.

Tedja Suminar dengan sketsa karyanya.
Tedja Suminar dengan sketsa karyanya.

Tedja lahir di Ngawi, 16 April 1959. Dia menempuh pendidikan seni lukis di Akademi Kesenian pada 1959. Tahun 1960, dia bertugas di Penerangan Angkatan Laut Surabaya. Di sana, dia membuat sketsa kehidupan AL dengan keliling Indonesia. Pada 1990, dia berkeliling Eropa mengunjungi museum-museum seni di sana. Dia beberapa kali menggelar pameran tunggal maupun bersama di dalam negeri maupun di mancanegara. Beberapa penghargaan diberikan oleh Gubernur Jatim dan Pemkot Surabaya atas pengabdiannya kepada seni.

Slamet Abdul Sjukur, maestro komponis kontemporer, dan Suparto Brata, seorang pengarang, keduanya berasal dari Surabaya yang merupakan sahabat dekat Tedja Suminar. Mereka telah lebih dulu mendahului Tedja pada 2015. Kini Tedja menyusul kedua sahabatnya dengan damai.

Para maestro boleh saja pergi, namun karya-karya mereka tetap langgeng dan dikenang siapa saja yang mencintai seni. Damai selalu sang maestro. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here