Bagikan

Catatan Carl Heider lewat bukunya yang berjudul Indonesian Cinema: National Culture On Screen menunjukkan, sejak era orde baru, kjmateri komedi dan seks sudah menjadi andalan film horor Indonesia. Ya, silakan cermati film-film horor di era Pak Harto. Pasti ada bumbu-bumbu orang berperawakan seksi semampai menjadi sisipan di film hantu.

Di awal 2000-an, tercatat beberapa film yang cenderung mengeksploitasi tubuh perempuan dan seks diluncurkan. Seperti, Tiren (2008), Tali Pocong Perawan (2008), Hantu Budeg (2009), Hantu Jamu Gendong (2009), dan beberapa yang lain.

Sebuah artikel dari kapanlagi.com berjudul Findo Purnomo: Penonton Mulai Jenuh Dengan Film Horor Indonesia menjelaskan adanya penurunan jumlah penonton yang sangat signifikan pada film-film bergenre horor kontemporer.

Sebagai contoh, film horor dengan materi seksualitas seperti Bangkitnya Suster Gepeng, Kutukan Arwah Santet, dan Mama Minta Pulsa tertahan di kisaran 80 ribu sampai 300 ribu. Jauh berbeda pada periode sebelumnya dengan jumlah penonton di atas 300 ribu. Seperti Arwah Goyang Karawang (727.540), Menculik Miyabi (447.000), dan Pocong Rumah Angker (503.450).

Pergeseran tren dan jenuhnya penonton terhadap genre horor kontemporer ini merupakan asumsi awal. Mungkin ini pula yang menjadi alasan bagi KK Pictures dalam menghadirkan film Jokowi: A Living Legend. A True Inspirational Story.

Genrenya, biopik. Inilah andalan baru dan diklaim sebagai titik balik produksi mereka. Munculnya kembali genre biopik dalam dunia perfilman Indonesia sebagai salah satu tren baru menjadi asumsi lain mengapa KK Pictures memutuskan untuk memakai kisah hidup Joko Widodo sebagai materi film yang baru.

Sik sik, kalimatku kedawan ya? Pancen! Ngos-ngosan mocone? Aku sing nulis ae ngos-ngosan. Lanjut!

Kondisi pergeseran tren perfilman Indonesia serta aspek ekonomis dari film ini pun menjadi penyebab lainnya. Hal ini didukung oleh artikel dari Koran Sindo terbitan Desember 2014 lewat dua narasumber yang bekerja dalam bidang perfilman: Joko Anwar dan Hanung Bramantyo.

Dikatakan bahwa tidak banyak muncul film bergenre biopik tiap tahunnya. Hanya sekitar dua sampai tiga film. Namun, film bergenre ini cukup kuat untuk mendatangkan penonton. Menurut keduanya, potensi penonton yang menjadikan genre ini diminati.

Tercatat film Habibie-Ainun mampu meraup 2 juta penonton dalam 14 hari penayangannya. Salah satu penyebabnya adalah kemampuan film bergenre biopik untuk mendatangkan penonton baru yang selama ini tidak rutin pergi ke bioskop. Potensi penonton yang besar ini membuat produsen film ikut masuk ke pasar penonton tersebut.

Film Biopik bisa memuat hal yang positif. Misalnya, bermuatan inspiratif. Ya, seperti film Habibie-Ainun atau yang tentang Merry Riana itu. Nah, film tentang Joko Widodo sejatinya juga bisa menggugah para penonton. Meski memang, aroma politis dari karya tersebut menyeruak kuat. Betapa tidak, film tersebut diluncurkan pas beliyau lagi asyik dalam kontestasi politik.

Apapun itu, jare wong iyes: the remote is on your hand. Terserah kita mau nonton apa. Kita yang pegang kendali. Mau lihat film horor, monggo. Film biopik, silakan. Film bokep, ya sah-saha saja. Tapi ingat, resiko juga ada di tangan kita.

Sekian, terima mantan. Eh, terimakasih. (*)


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here