Bagikan

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sedang galau. Kapan hari dia bilang minta maaf yang kemudian diartikan mau pamitan. Beberapa hari kemudian meralatnya. Menyatakan bahwa dia akan tetap bertahan.

Banyak yang memaknai pernyataan tersebut sebagai testing the water alias ngetes ombak. Ternyata, ombaknya bergejolak. Ada yang setuju beliau ke Jakarta, tapi juga banyak yang nggandoli untuk tetap di Surabaya.

Sebenarnya, apa untung ruginya bagi warga Wiyung (podo karo ndewor, Rek!) tersebut untuk hijrah atau tetap bertahan di Kota Pahlawan? Sebagai sesama warga Wiyung (masio aku warga Balas Klumprik), berikut ini beberapa hal yang mungkin penting untuk dipertimbangkan bliyo.

Untung:

  1. Popularitas Meningkat

Jika Bu Risma ikut dalam kompetisi Pilgub DKI, namanya bakal meroket. Memang, sekarang sudah populer. Tapi, masih di lingkup tertentu.

Jangan lupa, dalam survey yang dilakukan di Jakarta, dia tak pernah masuk dalam dua besar. Posisi dua besar selalu dikuasai Ahok atau Ridwan Kamil.

Artinya, Risma memang terkenal. Tapi tak seterkenal itu. Nah, Pilgub DKI bisa menjadi ajang bagi mantan kepala Bappeko tersebut untuk mengerek namanya di level nasional.

“Pemilihan Gubernur Jakarta merupakan etalase nasional,” kata pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Zaenal Budiyono, Senin, 8 Agustus 2016, seperti dikutip Tempo.

  1. Alternatif untuk Mengimbangi Ahok

Mengapa Ahok berkali-kali dihadang dengan persyaratan calon independen? Analisis paling gampangan adalah, bliyo bakal tidak terbendung jika akhirnya jadi cagub DKI. Tidak akan ada lawan yang sepadan yang bisa mengimbanginya.

Seorang teman yang bekerja sebagai think tank politikus bilang, “Enggak, Ah. Ahok nggak sepopuler itu. Itu semua kan cuma di media sosial.”

Menurut analisis dia, Ahok seolah tak terbendung karena memang tidak ada lawan yang sepadan. Karena itu, partai-partai lawan Ahok mau tidak mau harus memberi dia lawan yang selevel. Dalam hal ini, kalau tidak Risma ya Ridwan Kamil.

Masalahnya, wali kota Bandung tersebut sudah emoh maju pilgub DKI. Jadinya, lawan buat Enchantress ya cuma Suicide Squad.

  1. Bekal Menuju Pilgub Jatim

Dengan popularitas yang baik (baca poin satu), Bu Risma bisa siap-siap untuk pilgub Jatim 2018. Jangan lupa, meski berkibar di Kota Surabaya, Bu Risma belum tentu bisa menaklukan Jawa Timur.

Bu Risma memang idola arek Suroboyo. Tapi, persebaran budaya “arek” paling ya seputaran Gerbangkertosusila alias Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan.

Padahal, Jawa Timur terdiri dari 29 kabupaten dan 9 kota. Dan sebagian besar adalah masyarakat pedesaan. Apakah orang kota selalu bisa memahami desa? Belum tentu.

Dan apakah orang-orang desa juga tahu prestasi Risma? Belum tentu juga. Karena itu, naiknya popularitas Risma pasca Pilgub DKI (dengan asumsi bliyo kalah) akan sangat membantu dia untuk tampil di Pilgub Jatim.

Rugi:

  1. Kelanjutan Good Governance Surabaya

Selama Risma di Surabaya, baik sebagai kepala Bappeko dan Wali Kota, Surabaya termasuk kota yang terus umek. Opo ae didandani. Surabaya di bawah Risma juga menjadi pelopor tender via online yang membuat kota ini ditahbiskan KPK sebagai pelopor antikorupsi.

Belum lagi pembenahan di sektor-sektor infrastruktur yang masif.

Kalau Risma hengkang dari Surabaya, apakah tata kota seperti ini akan tetap berjalan?

Seorang teman pemerhati dunia properti bilang, “Bu Risma jangan bagus-bagus ngurus Surabaya. Harga propertinya jadi gak karuan.”

Pakar komunikasi politik Universitas Airlangga Suko Widodo bilang, “Jika Risma benar-benar diperintahkan maju oleh partainya, maka jika memenangi Pilkada DKI Jakarta, yang akan mendapat keuntungan jelas warga Ibu Kota Jakarta dan partainya, PDI Perjuangan.”

“Lha warga Surabaya dipastikan kehilangan Risma dan hanya akan mendapat kebanggaan (pride) saja,” imbuhnya seperti dikutip Berita Satu.

  1. Jika Kalah, Karir Risma Tamat

Undang-Undang anyar Nomor 10 Tahun 2016 menyatakan bahwa untuk mencalonkan diri, wali kota harus mundur dari jabatannya. Tidak bisa lagi cuti seperti dulu.

Nah, jika Risma K.O. lawan Ahok, karirnya bisa tamat. Memang, dia masih bisa maju di Pilgub Jatim (seperti poin tiga bab Untung), tapi jangan lupa Bu Risma ini bukan orang partai “nyel”. Musuhnya banyak. Partai tahu bahwa dia orang yang “tak bisa dikendalikan”.

Apa masih mau melihara macan?

  1. Mampukah Penggantinya Melanjutkan?

Jika Bu Risma hijrah ke Jakarta, posisi bliyo akan digantikan wakilnya. Dia adalah Wisnu Sakti Buana. Apakah Pak Wisnu bisa mempertahankan apa yang sudah dilakukan Risma?

Jika tidak, sangat disayangkan pembangunan sekian lama jadi tidak berlanjut.

Tapi, masalahnya, kenapa tidak bisa? Bukankah pengelolaan pemerintahan kota dikendalikan oleh sistem pemerintahan? Kenapa Risma bisa dan Wisnu tidak bisa?

Ya, masalahnya kan sistem pemerintahan kita masih dipengaruhi figur. Dengan kata lain, sistem sebagus apapun jika tidak dikawal dengan ketat tidak akan bisa tampil bagus. Di situlah peran pemimpin “galak” dan tegas seperti Risma dan Ahok cocok untuk mengawal kepentingan publik.

Kalo kepentingan lain aku gak melu-melu 😀

***

Demikianlah untung dan rugi yang bisa saya sampaikan soal pencalonan Risma jadi pilgub DKI. Kalau ada yang salah mohon maaf. Salam dan terima kos-kosan!


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here