Bagikan

Teman 1: Dang, dino iki toron ta? Nek gak ayo nyangkruk.
Teman 2: Cong, nek toron ojo lali oleh-oleh bebek sinjay, batik Meduro, pecut-pecutan (akehe, untung gak jaluk kapal feri).

Itulah beberapa pesan di messenger handphone saya di pagi ini. Yang lainnya hampir sama. Padahal saya lebih berharap pesan yang masuk, “Beb, pagi ini kamu benar-benar menyinari hatiku.” Arrrrgghhh.

Semua pesan yang masuk memiliki kemiripan yaitu kata “toron”. Teman-teman memberikan pesan tersebut karena memang saya keturunan orang Madura. Bapak saya orang Madura sedangkan ibu saya orang Surabaya. Mungkin karena itulah saya dulu waktu sekolah sering dipanggil “Roy”. Kependekan dari “Meduroy”

Terus “toron” sendiri apa? Tenang, Rek. Tak jelasno maringene. Yang belum mengerti monggo disimak, sing wis ngerti tolong wocoen maneh, Rek. Tolong. 

Ada toron tapi tak ada onggha  

Toron mempunyai makna turun ke bawah, atau pulang kampung atau mudik. Namun makna toron pada dasarnya mempunyai makna lebih dalam lagi, yaitu kembali menjalin tali silaturrahmi antar keluarga dan kerabat di tanah kelahirannya yaitu Madura.

toron
Foto: tempo.co

Namun demikian meski kata toron mempunyai makna turun, tidak ada istilah sebaliknya onggha (naik). Podo karo onoke cuman munggah kaji, gak ono mudun kaji. Kaji Dolah nek koen takoni kapan mudun kaji lak mesti muring-muring karo salto-salto.

Toron bukan berarti turun dari atas ke bawah. Toron merupakan istilah yang menajam sebagai bentuk kekentalan nilai dari dasar toron sendiri. Toron bisa berkembang menjadi toronan yaitu manifestasi dari silsilah keturunan dari tingkat keluarga.

Pengertiannya, kembali ke pangkuan orang tua.

toron
Foto: lenteraaspirasi.com

Atau, dalam makna turun temurun yang mempunyai arti peristiwa toron telah dilakukan secara turun temurun, yaitu mengikat tali silaturrahmi antar sanak keluarga dan kerabat pendahulunya.

Karena telah menjadi kebiasaan yang turun temurun itulah maka toron menjadi sebuah tradisi yang mendarah daging. Mungkin Istilah tersebut lebih terkenal di Madura dari daripada nama presiden kita sekarang.

Waktunya toron ya toron

Kurang lengkap rasanya kalau sudah masuk hari-hari besar umat muslim seperti Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi Muhammad SAW, orang Madura tidak mudik. Kalau waktunya toron ya toron. Seperti sebuah keharusan. Dengan menaiki angkutan apapun yang penting terlaksana dan sampai di kampung halaman.

Hal yang sama juga berlaku bagi bapak saya. Kalau perintah toron telah keluar ya harus siap grak!

Tahun lalu tepatnya tahun 2014 saja lebih dari satu juta orang yang melintas di Jembatan Suramadu. Itu belum yang melewati kapal feri. Antriannya bisa sampai satu kilometer. Beh, iku uakeh lho. Nek aku sing jogo loket yo iso mimisen trus opname.

toron
Foto: jatimtimes.com

Masifnya orang yang mudik adalah sangat wajar mengingat etnis Madura yang merantau di luar pulau sangat banyak. Destinasi utama pastinya Kota Surabaya, daerah pesisir Jawa Timur atau tapal kuda sampai kota besar lainnya. Jadi ingat, banyak orang Madura di Surabaya, tapi hanya satu “Roy”.

Wujud sifat rendah hati warga Madura

Mustofa Bisri dalam acara Halaqah Kebangsaan di PP Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep pada 2009 silam mengatakan justru penyebutan toron memperlihatkan sikap rendah hati orang Madura. Masyarakat Madura menganggap orang Jawa lebih tinggi karena itu merupakan sikap menghargai dan memuliakan orang lain.

Gus Mus menyatakan bahwa ulama-ulama di tanah Jawa merupakan murid dari ulama-ulama di Madura. Syaikhona Kholil Bangkalan telah melahirkan generasi ulama yang tersebar di berbagai tempat di tanah Jawa. Ini, menurut Gus Mus, merupakan prestasi orang Madura yang luar biasa dan tidak bisa disepelekan.

toron
Foto: tumblr-indonesia.tumblr.com

Jadi, jika selama ini kalian melihat orang Madura sebagai orang yang keras mungkin kalian bisa mulai melihat dari sisi lain yang sangat positif bagi kita semua. Yaitu sikap kerendahan hati, saling menghargai, dan menjunjung toleransi karena hal tersebut telah tercermin dari makna toron itu sendiri.

Lalu sudah siapkah Anda mencari menantu orang Madura, eh salah, sudah siapkah Anda toron?


Bagikan

2 COMMENTS

  1. toronnya orang madura kalau lebaran justru H+7 yg oleh orang madura disebut sebagai telasen topak dan ini adanya hanya di madura. walaupun keluargaku kristen tapi dulu setiap telasen topak kolega2 kerja bapak yg muslim selalu mengirimkan paket topak madura komplit. bahkan ada kolega yg dari desa lain mengutus orang khusus utk mengirimkan paket topak komplit itu. bukti tenggang rasa & kebersamaan orang madura.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here