Bagikan

Seperti biasa, Pilgub DKI Jakarta selalu menjadi isu nasional yang selalu disangkut-pautkan dengan banyak pihak di daerah.  Isu siapa yang menjadi DKI satu langsung mencuat, berbagai nama disebut dan disangkutkan dengan elektabilitas-nya.

 

Yang paling hangat adalah isu mengenai Bu Risma yang didorong untuk maju dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Yo gak salah sakjane. Secara, Bu Risma punya prestasi mentereng selama kepemimpinannya sebagai walikota Surabaya. Ratusan prestasi baik tingkat daerah, nasional hingga internasional diraih Kota Pahlawan dalam waktu singkat. Tak salah jika daerah lain iri dan mupeng dipimpin Bu Risma. Ya, meskipun juga banyak sedikit catatan negatif dalam kemimpinan walikota perempuan Surabaya yang pertama ini . Ya, wajarlah. sebagai Perempuan, Bu Risma tentu tidak sempurna, jika kamu mencari yang sempurna niscaya kau takkan menikah #Lho #halah

 

Tapi, jika boleh usul. Mbok ya jangan dulu Ke Jakarta. Tuntaskanlah dulu apa yang sudah diamanatkan oleh rakyat Surabaya untuk memimpin Surabaya lima tahun kedepan. Yo mosok dari sekian juta penduduk Jakarta yang terdiri dari seluruh suku bangsa Indonesia didalamnya gak ada yang mau dan berkompeten untuk duduk sebagai Gubernur DKI. Mbok yo cek kebacut’e sampek njaluk Bu Risma maju kepertarungan Pilgub DKI Jakarta. Apa Jakarta sudah kehilangan orang yang berintegritas dan amanah?

 

Secara langsung melalui Pilwali penduduk Surabaya yang Demokratis sudah memberi mandat agar Bu Risma memimpin Surabaya untuk lima tahun kedepan. Jika Bu Risma memang pingin ninggalno arek2. Tentu  harus bikin refendum dulu dong, jangan ujug-ujug ninggalno. Inikan seperti habis jadian, tapi tiba-tiba si doi mutusin kamu begitu saja. Lak yo sakit seh…..

 

Memang, ada penduduk Surabaya yang mendukung Risma ke Jakarta dan ada juga yang menolak Risma untuk ke Jakarta. Tetapi, sudahkan para pendukung Bu Risma ke Jakarta memikirkan penggantinya? Mbok yo jangan egois. Apakah Wakil Walikota Surabaya yang sekarang bisa memenuhi ekspektasi masyarakat Surabaya jika menggantikan posisi Bu Risma sebagai walikota? Apakah Sistem pemerintahan Kota Surabaya yang selama ini dibangun dengan baik bisa berjalan secara otomatis dan baik sepeninggal Bu Risma? Apakah sudah siap? Jangan sampai nanti muncul foto Bu Risma di bak belakang truk dengan tulisan “Hmm, enak jamanku toh?” Jangan sampai nanti masyarakat sulit move on dari Bu Risma. Seperti halnya kamu yang sedang membaca tulisan ini yang susah move on dari pacar atau gebetan. SAKNO!!!

 

Cepat atau Lambat Bu Risma akan pergi

Ya, cepat atau lambat Bu Risma pasti akan lengser. Entah mengundurkan diri atau karena masa jabatannya habis. Selain itu, ini juga periode terakhir Bu Risma dalam memimpin Kota Surabaya. Ingat, Ini Bu Risma, Bukan raja fir’aun, Sultan Hamengkubuwono,  atau Sultan Jorgi #eh yang bisa memimpin seumur hidup dan digantikan keturunannya secara langsung. Mau tidak mau, suka tidak suka beliau pasti pergi. Sudah siapkah kita? Seperti halnya kita yang mau tidak mau, suka atau tidak suka kita juga pasti akan putus dengan pacar kita, entah putus untuk tidak berhubungan lagi atau putus untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan.

 

Walau Bu Risma pergi tapi ada satu PR yang harus dilakukan. Yaitu, sistem. Apakah sistem yang selama ini telah dibangun dengan baik oleh Bu Risma dapat secara otomatis berjalan sepeninggal Bu Risma. Sistem pemerintahan yang telah menghasilkan banyak penghargaan, apakah dapat berjalan dengan baik jika Bu Risma tinggalkan? Itu PR-nya.

 

Partai Jangan Semena-Mena

Meskipun Bu Risma adalah kader PDIP. Bukan berarti PDIP bisa semena-mena memerintah Bu Risma untuk  maju ke Pilgub DKI. Menarik jika mendengar pernyataan salah satu petinggi partai yang menyampaikan bahwa kader partai tidak boleh menolak jika ditugaskan oleh partai.

 

Kok yo kuebacut. Apa ya nggak ada kader PDIP lain yang berkompeten. Bukankah partai adalah alat produksi yang bertugas menciptakan kader-kader yang mumpuni? Jika terus-terusan meminta Bu Risma ke Jakarta, apa mesin produksinya sedang rusak dan partai hanya sekedar prakmatis saja?
Dahulu, PDIP ‘mengemis’ kepada masarakat Surabaya untuk memilih kadernya. Eh, sekarang di tengah jalan meminta kader yang telah dipilih oleh masyarakat Surabaya  untuk maju ke Pilgub Jakarta.  Jika Bu Mega selaku pemimpin PDIP tetap mau memerintah Bu Risma untuk maju ke Pilgub DKI Jakarta. Ya gimana lagi. Meminjam potongan dialog Film AADC 2. “Yang Bu Mega lakukan itu, Jahat!”


Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here